Haru !! Deretan Peristiwa Penting Ini Terjadi Dalam Hidup Sukarno Selama Bulan Ramadhan

Posted on

Menurut Sukarno, seseorang akan merasa dekat dengan Tuhan dalam kesunyian. Di dalam sunyilah seseorang bisa “memikirkan akan suatu yang tidak ada batasnya dan segala sesuatu yang ada.” Di dalam pengasingan, “kudapati diriku dengan sendirinya bersembahyang dengan tenang.”  Penjara dan pengasingan yang kemudian dialaminya pun bukan lagi hanya sebuah hukuman, tapi jadi semacam pesantren. “Karena dilarang membaca buku-buku yang berbau politik, maka aku mulai mendalami Islam,” akunya. Tentu saja dia membaca Alquran juga, entah dari Inggit, istrinya ketika mengalami pemenjaraan, atau dari kawan sepenjaranya.

“Aku sungguh-sungguh mulai menelan Al Quran ditahun ke-28 (hidupku). Yaitu, bila aku terbangun aku membacanya. Lalu aku memahami Tuhan bukanlah suatu pribadi. Aku menyadari. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagad. Maha Kuasa. Maha Ada. Tidak hanya disini atau disana, akan tetapi dimana-mana.” Menurut Sukarno, pemerintah kolonial Hindia Belanda yang memenjarakan lalu membuangnya belasan tahun, punya pandangan rendah kepada orang-orang Islam, barangkali juga pada Islamnya. “Orang Belanda memandang kami, orang Islam, sama dengan penjembah berhala.”

Belakangan, opini miring orang-orang Belanda itu terasa aneh bagi Sukarno. “Penyembah berhala atau tidak, aku seorang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan. Bahkan Presiden dari Irlandia pun mengeluh padaku bahwa ia hanya memperoleh satu.”

tirto.id

Berpuasa di Bulan Puasa

Sebagai orang Islam, Sukarno berusaha melaksanakan kewajibannya. Dia salat, dia puasa. Dia tak lagi seperti di masa kecilnya. Barangkali dia seperti yang digambarkan Jailani Sitohang dalam buku Gaya Kepemimpinan Sukarno-Suharto (1989). “la berpuasa pada bulan Ramadhan yang diwajibkan Allah, bahkan setiap hari Senin dan Kamis ia melakukan puasa sunat.”

Banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang dilalui Sukarno di bulan puasa, tak terkecuali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Juga peristiwa-peristiwa yang dilalui sebelum dan sesudah Proklamasi. Sukarno juga berkunjung ke Dalat, menyambangi Panglima Militer Jepang di Asia, Marsekal Terauchi, saat bulan puasa. Ia juga diculik para pemuda yang ngotot ingin secepatnya Indonesia Proklamasi ke Rengasdengklok di bulan puasa. Pulang dari Rengasdengklok, dia bergadang di rumah Laksamana Maeda. Setelah urusan teks proklamasi beres, “Sukarno dan Hatta makan sahur dengan roti, telor, dan sardines,” tulis Suhartono Pranoto dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007).

Paginya, meski dalam kondisi tak enak badan dan berpuasa, dia membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di depan rumahnya, Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Tanggal 17 tersebut bertepatan dengan 9 Ramadan tahun 1365 Hijriyah. Esok harinya, 18 Agustus 1945, hari ke-10 Ramadan, Sukarno mengerjakan hal penting lain. Bersama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dia mengesahkan Undang-Undang Dasar yang kemudian dikenal sebagai UUD 1945. Di hari yang sama, dia mulai menjadi Presiden Republik Indonesia. Kabinet pertama pun akhirnya dilantik pada 2 September 1945, hari ke-25 puasa Ramadan.

Bulan puasa tahun berikutnya tak dijalani Sukarno……….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *