Haru !! Deretan Peristiwa Penting Ini Terjadi Dalam Hidup Sukarno Selama Bulan Ramadhan

Posted on

ADAYANGBARU.com – Jika kamu penggemar Sukarno kamu pasti tahu dong ya kisah hidup Proklamator kita ini. Nah salah satu kisah hidupnya yang menarik dan ternyata menyimpan cerita besar dibaliknya ada pada bulan Ramadhan seperti saat ini.  Seperti yang kami lansir dari tirto.id, Jika harus dimasukkan ke dalam salah satu pengelompokan yang dibuatnya sendiri, Nasakom, Sukarno jelas masuk golongan nasionalis. Sejak muda, dia terlibat pergerakan nasional dan mendirikan partai nasionalis. Sebagian orang di Indonesia pun meragukan keislamannya.

Ada keputusan-keputusannya sebagai presiden yang dianggap tidak bersahabat terhadap kelompok Islam. Membubarkan Partai Masjumi, contohnya. Namun, saat itu bukan hanya Masjumi yang dibubarkan, tetapi juga PSI yang bukan partai Islam. Menilik latar belakangnya, Sukarno memang tidak lahir dari keluarga dengan keislaman yang kental. Sang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang penganut Hindu Bali. Ayahnya, menurut Sukarno sendiri, adalah penganut Islam-theosofi. Ketika hendak menikah, ibundanya enggan pindah agama demi perkawinan. Maka, bisa dibilang Sukarno tergolong menjadi seorang Islam lebih karena pilihannya, bukan semata warisan.

Pengakuan Sukarno Menemukan Islam

google.com

Ketika kecil, Sukarno mengaku, dirinya hidup di kalangan orang-orang Islam yang berpuasa di kala bulan Ramadan tiba. Tiap malam di bulan suci itu, dia menyaksikan anak-anak bermain petasan.

“Semua anak-anak melakukannya dan diwaktu itupun mereka melakukannya. Semua, kecuali aku,” aku Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Di hari lebaran, Sukarno nampak tak ikut serta. “… kami tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Karena kami tidak punja uang untuk itu.”

Kisah-kisah itu adalah kisahnya ketika kecil saat dia merasa belum mengenal Islam, tapi percaya ada kekuatan Yang Maha Esa dalam kehidupan. “Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro (HOS Tjokroaminoto),” katanya lagi, seperti ditulis Adams. Namun, itu hanya penemuan yang masih samar. “…belumlah aku menemukan Islam dengan betul-betul dan sungguh-sungguh sampai aku masuk penjara. Didalam penjaralah aku menjadi penganut yang sebenarnya.”

Sukarno pernah berguru pada Tjokro yang pemuka Sarekat Islam sebelum dia kuliah di Bandung, meski Sukarno sendiri memilih ideologi nasionalis-sekuler. Tjokro adalah sosok penting yang membuka mata Sukarno soal Islam. Sebelumnya, “aku tak pernah mendapat didikan agama yang teratur karena bapak tidak mendalam dibidang itu,” kata Sukarno.

Menurut Sukarno,……….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *